Setelah berhasil menghabisi Black Serpent Demon yang melilit pohon dan mengambil batu iblis dari tubuhnya, Komandan Jiang dan Li Wei segera kembali ke lokasi tanaman spiritual dengan perasaan cemas yang tak bisa disembunyikan.

"Lynx, bagaimana keadaan tanamannya?" tanya Li Wei dengan nada khawatir saat melihat Lynx berada di dekat tanaman tersebut, sibuk menggali bebatuan yang menimpa akibat amukan ular. Tanaman ini adalah satu-satunya harapan bagi Li Wei untuk menyembuhkan kakaknya, Li Mei.

Lynx tersenyum, lalu berdiri agar mereka bisa melihat tanaman yang berhasil ia temukan di antara tumpukan batu. Tanaman itu berdiri kokoh di atas tanah, tanpa sedikit pun kerusakan meski baru saja melewati pertarungan sengit.

Tanpa diketahui oleh yang lain, saat binatang iblis berbentuk ular mengamuk dan menyerang Li Wei serta Komandan Jiang, Lynx telah menggunakan kekuatan saktinya untuk menciptakan perisai pelindung, memastikan tanaman tersebut tetap aman dari serangan ular yang mengamuk.

Berkat perisai itu, meskipun batu-batu berjatuhan dan menimpa tanaman Moon Spirit Herb tersebut, tanaman tetap utuh dan selamat. Agar perisai tersebut tidak ditemukan, Lynx sengaja mendatangi duluan tempat itu dengan alasan  memindahkan bebatuan dan menghilangkan perisainya.

Ekspresi kebahagiaan terpancar jelas di wajah Komandan Jiang dan Li Wei.

"Syukurlah, kita bisa menyelamatkan kakakku," ujar Li Wei dengan suara penuh rasa bahagia.

Namun, Komandan Jiang memandang tanaman Moon Spirit Herb tersebut dengan kebingungan. Ia jelas melihat ekor makhluk itu menghantam area sekitar tanaman, menyebabkan tanah dan bebatuan jatuh menimpanya, tetapi tidak ada jejak debu sedikit pun pada tanaman itu.

Komandan Jiang menatap Lynx dengan penuh tanda tanya. "Pemuda ini sepertinya tidak sesederhana yang terlihat. Aku harus waspada terhadapnya," pikirnya dalam hati, menyimpan kecurigaan yang mulai tumbuh.

"Paman Jiang, coba lihat itu!" seru Li Wei, menunjuk ke arah tempat sejumlah senjata berserakan di sekitar mereka. Karena terlindungi oleh tubuh binatang iblis, mereka tidak melihatnya sebelumnya. Ditempat itu terlihat juga beberapa sisa potongan tubuh manusia yang tampak mengerikan.

"Sepertinya mereka juga berniat mencari tanaman spiritual ini tetapi sungguh disayangkan, mereka menjadi korban kegananasan ular itu. Kita sangat beruntung berhasil menaklukkannya," kata Komandan Jiang, menghela napas lega.

"Apa kalian menyadarinya? Binatang iblis itu sungguh aneh, aku belum pernah mendengar ada ular yang bisa terjerat hingga tak bisa lepas, apalagi ini binatang iblis dan berukuran besar," komentar salah satu prajurit dengan nada bingung.

"Aneh atau tidak, yang penting kita selamat. Itu yang paling utama," jawab prajurit lainnya, mencoba menenangkan suasana.

Komandan Jiang semakin curiga terhadap pemuda di hadapannya. "Mungkinkah dia menyembunyikan tingkat kultivasinya? Tapi dari usianya, itu sangat tidak mungkin. Ataukah ada seseorang yang berusaha membantu kami secara diam-diam?" pikirnya dalam hati, mencoba mencari jawaban.

Komandan Jiang juga merasa heran dengan cincin penyimpanan yang dimiliki Lynx, meski dia sudah biasa melihat para kultivator memilikinya, tetapi tidak semua kultivator memilikinya, sangat jarang yang menggunakannya karena langka. Selain harganya mahal, susah ditemukan. Di kota Huoling, hanya nona Li Wei yang memilikinya karena pemberian dari ayahnya untuk Li Wei berlatih di sekte Api Langit.

"Aku harus waspada dan mengawasinya." Batin pemimpin Jiang dengan penuh tekad.

Sambil menunggu tanaman tersebut mekar, Li Wei mengajak mereka semua beristirahat dibawah pohon dan mengeluarkan beberapa jenis makanan dari cincin penyimpanannya untuk disantap bersama. Hidangan mereka cukup sederhana, praktis untuk perjalanan.

"Li Wei, kamu juga punya cincin penyimpanan?" tanya Jelita, matanya berbinar penasaran.

Li Wei mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin itu dengan bangga. "Aku mendapatkannya dari ayahku. Lalu, bagaimana dengan Xiao Ling? Dari mana dia mendapatkannya?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Komandan Jiang, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan percakapan itu, memasang telinga dengan saksama, berusaha memahami asal-usul pemuda di hadapannya.

"Aku tidak tahu," jawab Jelita, menggelengkan kepala. "Aku juga baru tahu beberapa hari lalu kalau Xiao Ling memilikinya."

Lynx, yang mendengarkan percakapan itu, segera menimpali, "Aku hanya beruntung mendapatkannya dari seseorang yang pernah kutolong. Sebagai tanda terima kasih," jelasnya singkat.

"Wah, makanan ini enak sekali. Boleh aku minta? Perutku sangat lapar," Lynx berusaha mengalihkan pembicaraan dengan senyum menggoda.

"Huh, pria mesum sepertimu masih bisa merasa lapar," sindir Li Wei, sambil mengambilkan makanan untuk Yun Qing. "Makanlah Yun Qing."

Jelita menerima makanan itu dengan malu-malu. Namun, setelah mencicipi, wajahnya berubah cerah, dan ia makan dengan lahap.

"Tak kusangka, di dunia ini ada banyak makanan yang rasanya seenak ini," pikirnya, teringat kehidupannya di pulau, di mana mereka hanya memakan hewan dan sayuran yang ditangkap, dengan bumbu seadanya.

Melihat cara Jelita makan, Komandan Jiang dan Li Wei saling memandang. "Seperti apa kehidupannya di desa? Dia tampak seperti belum pernah memakan makanan enak sebelumnya," pikir mereka.

Di sela-sela makan, Lynx memberanikan diri bertanya kepada Komandan Jiang tentang hal yang mengganggu pikirannya. "Komandan Jiang, mohon maaf, saya ingin bertanya, saat pertarungan Anda dengan Gao Qian dan juga saat melawan binatang iblis, teknik yang kalian gunakan sepertinya tidak terlalu banyak?"

Li Wei tertawa mendengar pertanyaan Lynx. "Xiao Ling, karena kamu hidup di desa, jadi kamu mungkin tidak tahu. Buku-buku teknik tentang kultivasi sudah lama menghilang sejak para leluhur lenyap saat menghadang batu meteor. Itulah sebabnya tidak banyak yang mengetahui teknik-teknik jurus dan perkembangan kultivasi sekarang lebih lambat karena jumlah kultivator tingkat tinggi yang bisa mengajarkan sangat sedikit. Bahkan tingkat immortal bisa dihitung dengan jari."

Lynx terkejut mendengar penjelasan itu. "Jadi mereka di dunia ini terkena dampak dari hilangnya leluhur mereka?" pikirnya, merasa prihatin.

Jelita, meski mengetahui informasi tentang para leluhur kultivator, memilih diam dan menikmati makanannya tanpa berani berbicara lebih jauh tanpa izin dari Lynx.

"Hanya sekte-sekte dan kepala keluarga yang kuat saja yang masih memiliki beberapa teknik kultivasi. Jika kamu ingin menaikkan tingkat kultivasimu, kamu harus bergabung ke sebuah sekte untuk belajar," jelas Komandan Jiang.

"Aku sendiri berasal dari Sekte Api Langit, sekte terbesar di Kerajaan Qingxuan ini," tambah Li Wei dengan bangga.

"Tunggu, lihat! Tanaman itu mulai mekar," tiba-tiba Jelita berteriak sambil menunjuk ke arah tanaman.

Mendengar kata-kata Jelita, mereka semua berpaling ke arah tanaman Moon Spirit Herb yang sedang mereka tunggu untuk berbunga.

Mereka melihat kuncup pada tanaman tersebut mulai terbuka perlahan.

Mereka semua segera mendekati tanaman tersebut. Saat melihatnya, mereka merasa kagum, menyaksikan keindahan tanaman spiritual yang akhirnya mekar dengan anggun.

"Bunga ini sangat cantik," puji Jelita, matanya berbinar kagum.

"Ambillah, Nona Li Wei. Gunakan untuk mengobati Nona Li Mei," ujar Komandan Jiang dengan nada penuh harap.

Tanpa ragu, Li Wei segera memetik bunga tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati. Saat menyentuhnya, ia merasakan sensasi dingin memancar dari bunga itu. Meskipun mengandung energi spiritual dingin, jika dikonsumsi, bunga ini akan memberikan efek panas yang dapat meningkatkan energi, terutama bagi binatang iblis.

"Baiklah, kita kembali sekarang ke Kota Huoling," kata Li Wei dengan semangat, membayangkan kakaknya, Li Mei, yang akan segera sembuh.

***

Siang itu, matahari bersinar terik, membakar daratan tanpa ampun. Beberapa bayangan melesat dengan kecepatan luar biasa menuju perbatasan Hutan Fengling. Begitu memasuki rimbunnya pepohonan, salah satu dari mereka segera berhenti, menutup mata, dan berkonsentrasi. Dengan kekuatannya, ia mampu mendeteksi keberadaan makhluk hidup dalam radius sepuluh kilometer.

"Gao Zhen, apa kau menemukan mereka?" tanya salah seorang pria di antara mereka, suaranya terdengar tegang.

Pria bertubuh besar dengan wajah keras dan sorot mata tajam yang dipanggil Gao Zhen membuka matanya, tatapannya penuh ketegasan. Ia mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu gelap yang tidak mencolok, seperti keempat rekannya yang mengenakan pakaian serupa. Meski terlihat seperti orang biasa, aura mereka yang berbahaya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

"Belum. Tapi mereka pasti akan melewati tempat ini," jawab Gao Zhen, suaranya dingin.

